Program Studi S1 Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) menghadiri acara Wacana Bahasa dan Budaya: Tayangan dan Bedah Film Eksklusif “Puteri Gunung Ledang – Princess of Mount Ledang” yang diselenggarakan oleh Konsulat Jeneral Malaysia Medan. Acara yang diselenggarakan oleh Konsul Jeneral Shahril Nizam Abdul Malek tersebut berlangsung pada hari Kamis (20/08/2026).
Dengan adanya kerja sama dengan Konsulat Jeneral Malaysia Medan, maka kegiatan tersebut menyasar pada SDGs 17: Partnerships for The Goals yaitu kolaborasi antar sektor. Acara tersebut dihadiri oleh Prof. Dr. KH. Amiruddin M.S., M.A., M.B.A., Ph.D.; Sultan Deli, Tuanku Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah; Gubernur Sumatera Utara ke-17, Dr. Ir. H. Tengku Erry Nuradi, M.Si.; Wakil Dekan bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Kealumnian FIB USU, Dr. Zulfan, M.Hum.; Wakil Dekan bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Internasionalisasi FIB USU, Andi Pratama Lubis, M.Hum.; Ketua Program Studi serta dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Sastra Melayu dan S1 Sastra Indonesia; serta pihak dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Acara dibuka dengan kata sambutan oleh Konsul Jeneral Malaysia Tuan Shahril Nizam Abdul Malek. Setelah kata sambutan, acara dilanjutkan dengan penayangan film “Puteri Gunung Ledang – Princess of Mount Ledang”. Film tersebut ditayangkan dan akan dianalisis oleh dua pemateri, yaitu Prof. Dr. Khairil Ansari, M.Pd., dari Pusat Kajian Budaya Melayu UMSU dan Arie Azhari Nasution, M.A., selaku Ketua Program Studi S1 Sastra Melayu FIB USU — dipandu oleh moderator Dedy Rahmad Sitinjak, M.Si.

Materi yang disampaikan oleh Ketua Program Studi S1 Sastra Melayu adalah mengenai “Menatap Warisan Bersama Nusantara (Alam Melayu): Kesamarataan Bahasa dan Budaya dalam Film Puteri Gunung Ledang”. Materi tersebut menyasar pada SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas). Beliau menjelaskan tentang kerangka post-kolonial; dekonstruksi batas 1824 berdasarkan jejak sejarah dan realita; diplomasi kesejajaran dua peradaban besar yaitu majapahit dan melaka; warisan material bersama yaitu batik, songket, keris, gamelan dan gambus serta silat.
Beliau juga menjelaskan bahwa filem tersebut me-Rebranding Pop-Culture dengan cara mengemas sejarah melayu menggunakan visual kolosal bergaya epic fantasy yang memikat anak muda; mengubah narasi klaim budaya sepihak menjadi shared pride antar-bangsa Nusantara; menepis anggapan sejarah Melayu itu kuno melalui sinematografi pop-kultur berkelas.
“Perjanjian kolonial membagi batas wilayah kita, tetapi rahim kebudayaan dan bahasa Melayu mengikat kita dalam satu Alam Melayu-Nusantara yang setara,” tutur Arie. Kalimat tersebut menyasar pada SDGs 16: Peace, Justice and Strong Institutions di Indonesia yaitu mempromosikan keharmonisan.