Medan, 26 Agustus 2026 – Dalam upaya memperluas horizon akademis serta merespons dinamika perkembangan sosial-keagamaan kontemporer, Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “Islam dan Budaya Urban” secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ilmiah skala nasional ini mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari lingkungan akademis, diikuti oleh sekitar 70 peserta yang terdiri atas jajaran dosen, peneliti, serta mahasiswa aktif di lingkungan Prodi Sastra Arab FIB USU.

Rangkaian acara yang berlangsung dengan penuh khidmat ini diawali oleh Rahmi Yulida Harahap selaku Master of Ceremonies (MC), yang bertindak memandu jalannya sesi protokoler pembukaan. Pembacaan agenda kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta penayangan profil singkat lembaga. Acara kemudian melangkah ke agenda utama berikutnya, yakni kata sambutan yang disampaikan oleh Dr. Zulfan, S.S., M.Hum., Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Kealumnian FIB USU, sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Dalam pidato sambutannya, Dr. Zulfan memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif strategis Program Studi Sastra Arab dalam menginisiasi ruang diskursus yang relevan dengan perkembangan zaman. Beliau menegaskan bahwa civitas akademika di bidang humaniora, khususnya kajian kearaban dan keislaman, dituntut untuk tidak hanya membatasi diri pada penguasaan tata bahasa, kebahasaan, dan teks-teks sastra klasik semata. Lebih dari itu, akademisi masa kini harus memiliki kepekaan kritis terhadap konstelasi kebudayaan Islam yang terus mengalami reduplikasi, adaptasi, dan transformasi di tengah derasnya arus modernisasi serta budaya urban.
Memasuki sesi inti kegiatan ilmiah, diskusi dipandu secara profesional oleh Prof. Dr. Dra. Nursukma Suri, M.Ag. yang bertindak sebagai moderator. Sesi pemaparan materi menghadirkan pakar di bidang filsafat Islam, yaitu Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M., dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, sebagai narasumber utama. Dalam sajian akademis yang disusun secara sistematis dan mendalam, Dr. Aan membuka pemaparannya dengan mengurai titik pijak historis masuknya ajaran Islam ke Nusantara. Beliau menjelaskan bagaimana ajaran Islam pada masa awal mampu berjalin kelindan secara harmonis dengan tatanan nilai, adat istiadat, serta pandangan sakralitas lokal yang telah mengakar dalam masyarakat Nusantara.
Proses penyerbukan silang antarbudaya (cross-cultural fertilization) tersebut, menurut Dr. Aan, berhasil melahirkan model keberagamaan yang unik, ramah, dan berkarakter rahmatan lil 'alamin. Kerangka akademis ini kemudian ditarik ke dalam diskursus sejarah pemikiran yang lebih tebal, yakni dengan mengulas kembali rekam jejak Polemik Kebudayaan 1935—sebuah perdebat historis antara kelompok pro-kemodernan Barat dan penganut tradisi Timur. Dr. Aan menyambung sejarah tersebut dengan menguraikan kontribusi intelektual para tokoh pembaru Islam Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ahmad Syafii Maarif, Emha Ainun Nadjib, hingga Azyumardi Azra, yang secara konsisten meletakkan dasar bagi sintesis harmonis antara nilai-nilai ketuhanan dan ide-ide kemodernan.
Lebih jauh, pembahasan menyentuh ranah sosiologi keagamaan kontemporer dengan membedah fenomena mencuatnya “Islam ekspresif” di kalangan masyarakat kelas menengah perkotaan. Pemaparan narasumber mencakup pemetaan konkret berbagai komunitas hijrah urban di Indonesia, seperti Shift Pemuda Hijrah di Bandung, Hijrah Fest di Jakarta, gerakan One Day One Juz (ODOJ), hingga Khalifah Generation. Dr. Aan menguraikan bagaimana terjadi pergeseran ruang keagamaan dari pesantren dan masjid kampung menuju masjid perkantoran, hotel, dan platform media sosial. Bentuk transmisi pengetahuan pun bergeser dari pengajian kitab kuning berbasis sanad keilmuan kiai menuju kajian populer melalui podcast dan influencer agama. Begitu pula dengan simbolisme keagamaan yang kini menjelma menjadi fashion syar'i modern, estetika komersial, hingga tren gaya hidup halal dan sertifikasi branding.
Tidak hanya meninjau aspek sosiologis-fenomenologis, Dr. Aan juga mengajak peserta menyelami refleksi filosofis. Beliau mendiskusikan komparasi antara arsitektur kota modern yang cenderung mengejar fungsi profan serta kemegahan fisik dengan arsitektur tradisional yang selaras dengan alam sebagai manifestasi Ilahi. Diskusi dilanjutkan dengan pemetaan struktur pengetahuan—yang mengintegrasikan ilmu teoritis (metafisika, logika, fisika) dan ilmu praktis (etika, ekonomi, politik)—serta uraian esoteris mengenai seni kaligrafi dan arabesk sebagai pencerminan keindahan Tauhid. Di akhir pemaparannya, Dr. Aan menegaskan pemikiran Malek Bennabi bahwa Islam di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi masa depan peradaban Islam dunia yang adaptif, progresif, dan harmonis tanpa harus kehilangan identitas dasarnya.
Antusiasme peserta membuncah pada sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai pertanyaan tajam dan berbobot mengemuka dari para dosen serta mahasiswa, mulai dari isu pergeseran otoritas keagamaan digital, dilema pendalaman doktrin di tengah gempuran tren ekspresif yang dangkal, hingga upaya mengintegrasikan nilai tauhid dalam rancang bangun ruang kota modern. Sesi ini berlangsung sangat interaktif dengan tanggapan-tanggapan mendalam dan kontekstual dari narasumber.
Rangkaian kegiatan kuliah umum yang kaya akan nuansa intelektual ini akhirnya ditutup secara resmi melalui ulasan penutup (closing statement) dari Dr. Windi Chaldun, Lc., M.Hum., selaku Ketua Prodi Sastra Arab FIB USU. Dalam penyampaiannya, Dr. Windi mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada narasumber atas pemaparan materi yang begitu luas dan mencerahkan, serta kepada seluruh jajaran panitia yang telah menyukseskan acara. Beliau berharap bahwa gagasan-gagasan teoretis dan pragmatis yang diperoleh dari kuliah umum ini dapat diserap oleh civitas akademika sebagai bahan pijakan riset, kajian penulisan skripsi, serta pengayaan karya ilmiah di lingkungan Prodi Sastra Arab FIB USU pada masa-masa yang akan datang.