Prodi Ilmu Sejarah - Selasa, 18 Agustus 2026 Program Studi S1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara menyelenggarakan Guest Lecture bertajuk “Ganyang Malaysia: The Indonesia–Malaysia Confrontation” pada Selasa, 18 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung secara hybrid di Gedung Serbaguna Prof. T. Amin Ridwan FIB USU dan melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penyambutan mahasiswa baru Prodi S1 Ilmu Sejarah Stambuk 2026. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diperkenalkan sejak awal pada pembelajaran sejarah yang tidak hanya berfokus pada tanggal dan kronologi, tetapi juga pada kemampuan membaca sumber, melihat sebuah peristiwa dari berbagai perspektif, dan memahami konteks yang melatarbelakanginya.

Hadir sebagai narasumber Prof. Lee Kam Hing, sejarawan Malaysia dari New Era University College, Selangor. Kegiatan dibuka oleh Dekan FIB USU Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D. Sambutan disampaikan oleh Ketua Program Studi S1 Ilmu Sejarah FIB USU Lestari Dara Cinta Utami Ginting, S.S., M.A., sementara Prof. Dr. Drs. Budi Agustono, M.S., Guru Besar Sejarah USU, memberikan pengantar sebelum sesi utama. Diskusi dipandu oleh Muhammad Rasyidin, S.S., M.A.

Dalam paparannya, Prof. Lee mengajak peserta melihat Konfrontasi Indonesia–Malaysia 1963–1966 secara lebih luas. Ia membahas latar pembentukan Malaysia, situasi Perang Dingin, dinamika politik domestik Indonesia, jalannya konflik, hingga proses diplomasi yang akhirnya mengakhiri Konfrontasi. Pembahasan menunjukkan bahwa konflik tersebut tidak dapat dilepaskan dari persoalan ideologi, geopolitik, dan perkembangan politik dalam negeri Indonesia.

Seruan “Ganyang Malaysia” juga menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi. Prof. Lee menempatkan seruan tersebut dalam konteks politik 1963, termasuk Pemberontakan Brunei, pembentukan Federasi Malaysia, KTT Manila, Maphilindo, serta meningkatnya ketegangan antara Indonesia dan Malaysia.

Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada periode konflik. Prof. Lee juga menjelaskan proses pemulihan hubungan Indonesia–Malaysia melalui diplomasi. Perundingan antara Adam Malik dan Tun Razak di Bangkok pada 1966 menjadi salah satu tahap penting menuju normalisasi hubungan kedua negara. Dalam perkembangan selanjutnya, Indonesia dan Malaysia bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya kemudian menjadi bagian dari pembentukan ASEAN pada 8 Agustus 1967.

Bagi mahasiswa baru, kuliah tamu ini menjadi pengalaman awal untuk mengenal bagaimana sejarah dipelajari dan didiskusikan secara akademik. Dalam sambutannya, Ketua Prodi S1 Ilmu Sejarah menegaskan bahwa belajar sejarah bukan sekadar menghafal tahun. Mahasiswa didorong untuk membaca sumber, mencari arsip, melakukan wawancara, menulis, berdiskusi, dan berani mempertanyakan kembali sesuatu yang selama ini dianggap sudah pasti.

Diskusi juga mendapat warna tersendiri dengan kehadiran dua mahasiswa dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Kehadiran mereka membuka ruang dialog lintas negara dan memungkinkan pembahasan Konfrontasi Indonesia–Malaysia dilihat dari perspektif yang lebih beragam.

Melalui kegiatan ini, Prodi S1 Ilmu Sejarah FIB USU ingin membangun suasana akademik yang terbuka sejak awal masa studi mahasiswa. Mahasiswa diharapkan tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga aktif mengikuti kuliah tamu, seminar, penelitian, magang, kompetisi, serta berbagai kegiatan akademik lainnya.

Guest Lecture ini juga menjadi ruang untuk melihat bahwa sejarah konflik tidak selalu berakhir pada pertentangan. Dari Konfrontasi Indonesia–Malaysia, mahasiswa dapat melihat proses diplomasi, rekonsiliasi, dan kerja sama yang kemudian ikut membentuk hubungan regional Asia Tenggara.

Kegiatan ini mendukung SDG 4: Quality Education melalui penguatan pengalaman belajar mahasiswa serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring akademik Indonesia–Malaysia.