Program Studi S1 Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan Guest Lecture dengan tema "Malay Civilization in a Changing World". Guest Speaker pada kegiatan ini adalah seorang guru besar dari International Institute of Islamic Thought and Civilization, International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), Prof. Ahmad Murad Merican. Dengan adanya kolaborasi antar sektor, maka kegiatan tersebut menyasar pada SDGs 17: Partnerships for The Goals. Kegiatan Guest Lecture ini berlangsung pada hari Kamis (27/08/2026).
Guest Lecture dihadiri oleh Ketua Senat USU, Prof. Dr. Drs. Budi Agustono, M.S.; Wakil Dekan bidang Penelitian, Pengabdian, Kerja Sama, dan Internasionalisasi FIB USU, Andi Pratama Lubis, S.S., M.Hum.; Ketua Program Studi S1 Sastra Melayu, Arie Azhari Nasution, S.S., M.A.; serta Dosen dan Mahasiswa Program Studi S1 Sastra Melayu —dipandu oleh Dedy Rahmad Sitinjak, S.S., M.Si.
Guest Lecture diawali dengan kata sambutan oleh Ketua Program Studi S1 Sastra Melayu FIB USU, Arie Azhari Nasution, S.S., M.A. Beliau menyampaikan bahwa tema kuliah umum hari ini bukanlah sekadar wacana nostalgik atas keagungan masa lalu. "Tema ini merupakan panggil kebingkaian intelektual bagi kita semua di era disruptif ini. Peradaban Melayu sejak ratusan tahun lalu tidak pernah berdiri sebagai entitas yang tertutup; ia adalah peradaban bahari yang terbuka, bersentuhan dengan berbagai gelombang kebudayaan dunia, namun tetap mempertahankan akar kosmologi dan nilai-nilai luhurnya," tutur Arie.
Guest Lecture dibuka oleh Dekan FIB USU yang diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian, Kerja Sama, dan Internasionalisasi FIB USU, Andi Pratama Lubis, S.S., M.Hum. Beliau menyampaikan bahwa di era modernisasi, digitalisasi, dan juga pergeseran geopolitik global saat ini, peradaban Melayu dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang baru. Sehingga menimbulkan pertanyaan: Bagaimana peradaban Melayu bisa mempertahankan akar nilai dan identitasnya di tengah arus perubahan global? Bagaimana pemikiran dan kearifan Melayu dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan kemanusiaan modern?
“Pertanyaan-pertanyaan besar tersebut akan dibedah bersama melalui perspektif mendalam dari Prof. Merican. Mari kita gunakan momen ini untuk memperluas cakrawala berpikir, berdiskusi secara kritis, dan memperkuat jejaring akademis lintas negara,” tutur Andi.
Menyasar pada SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas), Prof. Ahmad Murad Merican membedah ulang kerangka berpikir tentang Tamadun Melayu. Beliau mengupas tuntas dinamika sejarah dan masa depan peradaban dengan menolak pandangan sempit yang melihat Tamadun Melayu hanya sebagai kategori etnis atau linguistik yang statis. Sebaliknya, peradaban ini ditegaskan sebagai sistem peradaban maritim yang terbuka dan dinamis.
Prof. Ahmad menekankan perlunya melepaskan diri dari kerangka Eurosentrisme dan Orientalisme, serta konsep negara-bangsa (Westphalian) yang dianggap mengekang pemikiran peradaban Melayu dalam batas-batas artifisial (Dekolonisasi Epistemik). Berbeda dengan peradaban kontinental yang berbasis daratan, reservoir utama Tamadun Melayu adalah lautan dan samudra, dengan sistem organisasi yang dibentuk oleh realitas geografis kepulauan serta jalur pelayaran strategis (Identitas Maritim sebagai Inti).
Tamadun Melayu dianalisis melalui lensa teori sistem adaptif kompleks dan long durée (durasi sejarah panjang), di mana polanya bersifat nonlinier dan mencakup bentangan geografis luas mulai dari Madagaskar hingga Kepulauan Pasifik (Pendekatan Sistem Kompleks). Diskusi penutup turut menyoroti isu-isu kontemporer, termasuk posisi kecerdasan buatan (AI) sebagai instrumen yang harus dikuasai, pluralitas asal-usul genetik dan linguistik, serta integrasi lapisan sejarah dari Hindu-Buddha hingga Islam.
Kegiatan Guest Lecture tersebut menyimpulkan bahwa ketahanan Tamadun Melayu terletak pada sifatnya yang terbuka dan adaptif terhadap berbagai pengaruh global—mulai dari Persia, India, hingga Eropa—tanpa kehilangan jati diri intinya.