home icon
search icon
menu icon

> Berita > Seminar Penciptaan dan Pengkajian Seni III

Seminar Penciptaan dan Pengkajian Seni III

Dipublikasi Pada

31 Mei 2024

Dipublikasi Oleh

Triko Altanzir

Seminar Penciptaan dan Pengkajian Seni III
Thumbnail Seminar Penciptaan dan Pengkajian Seni III

"Musik memiliki efek positif pada kesehatan, mental dan emosional sesorang. Musik dapat meredakan stres, dan kecemasan. Musik dapat membantu mood, memperkuat daya tahan dan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan endorfin maupun adrenalin. Musik dapat meningkatkan konsentrasi dan memperbaiki memori jangka panjang. Bagaimana sistem kerja dan aspek-aspek yang melatar belakanginya? semoga dapat terjawab oleh narasumber kita hari ini," tutur Dra. Heristina.

 

facebookinstagram

 

HUMAS FIB USU - Jumat, 31 Mei 2024, Program Studi S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan Seminar yang ke-3 dengan tema Mengeksplorasi Emosi Melalui Musik: Integrasi Terapi Musik dan Psikologi. Seminar tersebut turut mengundang narasumber Prof. Dr. Djohan, M.Si. dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Prof. Junita Batubara, S.Sn., M.Sn., Ph.D. dari Universitas HKBP Nommensen.

 

 

Seminar dibuka secara resmi oleh Dekan FIB USU yang diwakilkan oleh Wakil Dekan II FIB USU Dra. Heristina Dewi, M.Pd. Wakil Dekan II dalam sambutannya menyampaikan tentang penelitian dari beliau baca. "Musik memiliki efek positif pada kesehatan, mental dan emosional sesorang. Musik dapat meredakan stres, dan kecemasan. Musik dapat membantu mood, memperkuat daya tahan dan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan endorfin maupun adrenalin. Musik dapat meningkatkan konsentrasi dan memperbaiki memori jangka panjang. Bagaimana sistem kerja dan aspek-aspek yang melatar belakanginya? semoga dapat terjawab oleh narasumber kita hari ini," tutur Dra. Heristina.

 

Narasumber pertama Prof. Dr. Djohan, M.Si. menjelaskan tentang Psikologi Musik. Secara kolektif, pengalaman musik ini sangat bervariasi dan sangat kompleks. Banyak pertanyaan yang timbul pada pembahasan tersebut, seperti bagaimana manusia menjadi makhluk musikal, bagaimana dan mengapa tubuh kita merespon musik, mengapa orang memiliki respon emosional terhadap musik, dan lain sebagainya. Psikologi musik berupaya memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena yang merupakan inti dari apa artinya menjadi manusia. 

 

Semua masyarakat di seluruh planet ini dan sepanjang sejarah terlibat dalam perilaku musikal. Faktanya, umat manusia di seluruh dunia terlibat dalam perilaku musik sedemikian rupa sehingga banyak yang menganggap musik sebagai ciri spesifik suatu spesies. "Secara kolektif, pengalaman bermusik ini sangat beragam, sangat kompleks, dan bidang psikologi musiklah yang berupaya memahami serta menjelaskan fenomena yang tampaknya sangat penting dalam artian: menjadi manusia," tutur Prof. Djohan.

 

Narasumber kedua Prof. Junita Batubara, S.Sn., M.Sn., Ph.D. menjelaskan tentang Terapi Musik BmT (Box Musik Terapi). Terapi Musik merupakan pendekatan terapeutik melalui sifat-sifat musik untuk emosi secara alami dan membantu kesehatan mental. Ada beberapa metode dalam terapi musik yaitu membuat komposisi musik - menciptakan - bentuk - ekspresi, menulis lagu-lirik/melodi-ungkapan perasaan, nyanyian (ungkapan emosi dan dapat meredakan stres), tarian (gerakan tubuh - terkait dengan musik), dan mendengarkan musik (mempengaruhi suasana hati, mengurangi kecemasan).

 

Adapun beberapa alat BmT yang digunakan oleh Prof. Junita yaitu GSR (Galvanic Skin Response), Headphone, MPX5050dp yang merupakan sensor tekanan, dan memory card. Prof. Junita telah melakukan penelitian terkait dengan BmT ini kepada pasien maupun tenaga kesehatan. "Dari hasil pengamatan kepada pasien EF setelah dilakukan terapi musik, pasien menjadi lebih mampu berjalan, mampu diajak berbicara dengan fokus yang lebih tinggi, dan BmT juga menimbulkan perasaan tenang sehingga mampu meringankan rasa nyeri yang selama ini pasien alami," tutur Prof Junita.

Berita