Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (FIB USU) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Plus Taruna Akterlis Medan pada 28 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Karya Tani No. 1, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, ini menghadirkan dua mahasiswa inbound dari Kitakyushu University, Jepang, yaitu Hitomi Abe dan Yuzuki Himeno, untuk berbagi pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat dan pendidikan di Jepang.
Kegiatan dipimpin oleh Ketua Program Studi Sastra Jepang FIB USU, Alimansyar, S.S., M.A., Ph.D., dengan dukungan dua mahasiswa Sastra Jepang FIB USU. Melalui pertemuan ini, taruna dan taruni memperoleh kesempatan untuk mengenal budaya serta kehidupan generasi muda Jepang secara langsung. Kegiatan pengabdian diharapkan dapat memperluas wawasan peserta sekaligus meningkatkan motivasi untuk mempelajari bahasa Jepang dan mempertimbangkan peluang pendidikan lanjutan.
SMA Plus Taruna Akterlis Medan memiliki karakteristik pendidikan yang menekankan pembentukan karakter, nilai religius, etika, kedisiplinan, dan kepemimpinan. Sekolah juga menyediakan beragam kegiatan pengembangan diri, antara lain marching band, Palang Merah Remaja, kegiatan penerbangan, IT Club, olahraga, dan bela diri. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa di luar kelas.
Kehadiran tim pengabdian memberikan tambahan pengalaman belajar melalui interaksi lintas budaya. Para siswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai Jepang, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berdialog langsung dengan mahasiswa yang memiliki pengalaman belajar di negara tersebut.
Dalam pemaparannya, Hitomi dan Yuzuki memperkenalkan Prefektur Oita dan Tokushima sebagai contoh keragaman daerah di Jepang. Oita diperkenalkan melalui destinasi pemandian air panas Beppu dan Yufuin, makanan khas seperti toriten dan dango jiru, serta keindahan alam Pegunungan Kuju dan kawasan Yabakei.
Sementara itu, Tokushima diperkenalkan melalui tradisi tari Awa Odori, pusaran air Naruto, dan kuliner Tokushima ramen. Berbagai contoh tersebut memberikan gambaran kepada siswa mengenai identitas daerah di Jepang yang terbentuk melalui kondisi geografis, tradisi, dan kehidupan masyarakatnya.
Presentasi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan wilayah Kyushu dan Prefektur Fukuoka yang terletak di bagian barat daya Jepang. Kedua mahasiswa turut menjelaskan hubungan Fukuoka dengan kawasan Asia serta memperkenalkan kuliner khasnya, seperti Hakata ramen, mentaiko, dan motsunabe. Materi pengabdian memperluas pengetahuan peserta mengenai keragaman kehidupan sosial dan budaya Jepang.
Kota Kitakyushu juga menjadi salah satu topik pembahasan, khususnya mengenai perkembangan industri baja dan pengalaman kota tersebut dalam menghadapi pencemaran hingga berkembang menuju kota berwawasan lingkungan. Pengenalan ini memberikan gambaran tentang pentingnya memperhatikan kualitas lingkungan dalam pembangunan perkotaan. Secara tematik, materi tersebut berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.
Selanjutnya, siswa diperkenalkan dengan Kitakyushu University yang berlokasi di Kota Kitakyushu, Prefektur Fukuoka. Materi mencakup gambaran bidang studi, pembelajaran bahasa asing, dan kegiatan pertukaran internasional. Informasi tersebut memberikan wawasan awal mengenai lingkungan pendidikan tinggi di Jepang serta mendorong siswa untuk mempersiapkan kemampuan bahasa dan akademik apabila ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Bagian lain dari presentasi membahas kehidupan pelajar sekolah menengah atas di Jepang. Hitomi dan Yuzuki berbagi pengalaman mengenai rutinitas sehari-hari, mulai dari persiapan berangkat sekolah, mengikuti pelajaran, menikmati waktu makan siang, hingga melakukan kegiatan setelah sekolah. Mereka juga memperkenalkan kegiatan membersihkan lingkungan sekolah, mengikuti klub, mengerjakan tugas, dan beristirahat di rumah.
Kedua mahasiswa turut menjelaskan berbagai agenda tahunan sekolah, seperti upacara masuk sekolah, penyambutan siswa baru, pertandingan olahraga, festival budaya, pekan olahraga, perjalanan studi, dan upacara kelulusan. Kegiatan klub atau bukatsu juga diperkenalkan sebagai salah satu ruang bagi pelajar Jepang untuk mengembangkan minat, membangun kerja sama, dan melatih tanggung jawab.
Sesi tanya jawab menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para taruna dan taruni mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kehidupan masyarakat Jepang, terutama tentang kedisiplinan. Dialog ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi lebih lanjut sekaligus membandingkan pengalaman yang disampaikan mahasiswa Jepang dengan kehidupan mereka di lingkungan sekolah.
Ketertarikan terhadap kedisiplinan memiliki relevansi dengan karakter pendidikan SMA Plus Taruna Akterlis Medan yang menekankan etika, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Melalui pertukaran pandangan tersebut, siswa diajak memahami pengalaman budaya yang berbeda sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya Target 4.7 yang mendorong pemahaman mengenai kewargaan global dan penghargaan terhadap keragaman budaya. Pengenalan kehidupan masyarakat dan pendidikan Jepang, disertai dialog langsung dengan mahasiswa inbound, menjadi bagian dari pembelajaran lintas budaya yang memperkaya wawasan peserta.
Dari sisi SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, kegiatan ini memperlihatkan kolaborasi antara Program Studi Sastra Jepang FIB USU, mahasiswa inbound Kitakyushu University, dan SMA Plus Taruna Akterlis Medan. Pertukaran pengetahuan tersebut sejalan dengan semangat Target 17.16 mengenai penguatan kemitraan multipihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Program Studi Sastra Jepang FIB USU berharap taruna dan taruni semakin tertarik untuk mempelajari bahasa dan budaya Jepang, mengembangkan kemampuan akademik, serta menjajaki peluang melanjutkan pendidikan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, memperluas pemahaman lintas budaya, dan mendukung semangat belajar sepanjang hayat.