Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (FIB USU) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Swasta Harapan Medan pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan pengabdian menghadirkan dua mahasiswa inbound dari Kitakyushu University, Jepang, yaitu Hitomi Abe dan Yuzuki Himeno, untuk memperkenalkan keragaman daerah, kehidupan pelajar, serta lingkungan pendidikan di Jepang kepada para siswa.

Kegiatan dipimpin oleh Ketua Program Studi Sastra Jepang FIB USU, Alimansyar, S.S., M.A., Ph.D., dengan dukungan dua mahasiswa Sastra Jepang FIB USU yang merupakan alumni SMA Harapan Medan. Melalui kegiatan pengabdian ini, siswa memperoleh kesempatan untuk mengenal kehidupan masyarakat Jepang secara langsung melalui pengalaman mahasiswa yang pernah menempuh pendidikan di negara tersebut. Kegiatan pengabdian diharapkan dapat memperluas wawasan, meningkatkan motivasi mempelajari bahasa dan budaya Jepang, serta menumbuhkan minat untuk melanjutkan pendidikan ke Jepang.

Dalam presentasinya, Hitomi dan Yuzuki memperkenalkan daerah asal mereka serta keragaman budaya di Jepang. Prefektur Oita diperkenalkan melalui destinasi pemandian air panas Beppu dan Yufuin, makanan khas seperti toriten dan dango jiru, serta keindahan alam Pegunungan Kuju dan kawasan Yabakei.

Prefektur Tokushima diperkenalkan melalui letaknya di bagian timur Pulau Shikoku, tradisi tari Awa Odori, fenomena pusaran air Naruto, serta kuliner khas Tokushima ramen. Pengenalan kedua prefektur memberikan gambaran kepada siswa bahwa setiap daerah di Jepang memiliki karakteristik alam, tradisi, dan kuliner yang beragam.

Presentasi dilanjutkan dengan pengenalan wilayah Kyushu dan Prefektur Fukuoka. Kedua mahasiswa menjelaskan posisi Kyushu di bagian barat daya Jepang serta Fukuoka sebagai salah satu pusat interaksi Jepang dengan kawasan Asia. Siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah kuliner khas, seperti Hakata ramen, mentaiko, dan motsunabe. Materi ini memperlihatkan hubungan antara kondisi geografis, kehidupan masyarakat, dan identitas budaya suatu daerah.

Selain keragaman daerah, siswa memperoleh informasi mengenai Kota Kitakyushu yang dikenal sebagai kota industri baja. Dalam presentasi tersebut, Hitomi dan Yuzuki menjelaskan pengalaman kota tersebut dalam menghadapi permasalahan pencemaran serta perkembangannya menuju kota yang lebih berwawasan lingkungan. Materi ini memberikan gambaran mengenai pentingnya keseimbangan antara pembangunan industri dan upaya menjaga kualitas lingkungan hidup. Pengenalan tersebut turut berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.

Kedua mahasiswa memperkenalkan Kitakyushu University sebagai perguruan tinggi negeri yang berlokasi di Kota Kitakyushu, Prefektur Fukuoka. Informasi yang disampaikan mencakup bidang-bidang studi, pembelajaran bahasa asing, serta kegiatan pertukaran internasional. Pengenalan ini memberikan gambaran awal kepada siswa mengenai kesempatan dan lingkungan pendidikan tinggi di Jepang.

Salah satu materi yang menarik perhatian siswa adalah pengalaman kehidupan sekolah menengah atas di Jepang. Hitomi dan Yuzuki membagikan gambaran aktivitas pelajar sehari-hari, mulai dari persiapan berangkat sekolah, jadwal pembelajaran, waktu makan siang, hingga kegiatan setelah sekolah. Siswa juga diperkenalkan dengan rutinitas membersihkan lingkungan sekolah, mengikuti kegiatan klub, mengerjakan tugas, dan beristirahat di rumah.

Selain rutinitas harian, presentasi turut membahas berbagai kegiatan dalam satu tahun ajaran, seperti upacara masuk sekolah, penyambutan siswa baru, pertandingan olahraga, festival budaya, pekan olahraga, perjalanan studi, dan upacara kelulusan. Kedua mahasiswa juga menjelaskan bukatsu atau kegiatan klub yang menjadi salah satu bagian dari kehidupan pelajar Jepang.

Melalui materi tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk membandingkan kehidupan sekolah di Jepang dan Indonesia. Pengalaman belajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan bersama, pengembangan minat, serta pembentukan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Perbandingan ini membantu siswa memahami persamaan dan perbedaan budaya pendidikan di kedua negara.

Kegiatan pengabdian sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya Target 4.7 yang mendorong pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, kewargaan global, serta penghargaan terhadap keragaman budaya. Interaksi langsung dengan mahasiswa Jepang menjadi sarana pembelajaran lintas budaya yang memperkaya wawasan siswa dan memperkenalkan perspektif baru mengenai kehidupan masyarakat internasional.

Dari sisi SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, kegiatan pengabdian menunjukkan kolaborasi antara Program Studi Sastra Jepang FIB USU, mahasiswa inbound Kitakyushu University, dan SMA Swasta Harapan Medan. Pertukaran pengetahuan tersebut sejalan dengan semangat Target 17.16 mengenai penguatan kemitraan multipihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Program Studi Sastra Jepang FIB USU berharap dapat memperluas akses siswa terhadap pengetahuan bahasa dan budaya Jepang serta memberikan motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan akademik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan dapat memperkuat hubungan pendidikan dan pemahaman budaya antara Indonesia dan Jepang.