Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (FIB USU) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Swasta Kesatria Medan dengan melibatkan dua mahasiswa inbound dari Kitakyushu University, Jepang. Kegiatan pengabdian bertujuan memperluas wawasan siswa mengenai kehidupan masyarakat dan pendidikan di Jepang sekaligus menumbuhkan motivasi untuk mempelajari bahasa Jepang dan melanjutkan pendidikan ke Jepang.

Kegiatan pengabdian dipimpin oleh Ketua Program Studi Sastra Jepang FIB USU, Alimansyar, S.S., M.A., Ph.D., bersama dua mahasiswa Kitakyushu University, Hikari Inamoto dan Arisa Monji. Pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh dua mahasiswa Program Studi Sastra Jepang FIB USU yang merupakan alumni SMA Swasta Kesatria Medan.

SMA Swasta Kesatria Medan dipilih sebagai mitra pengabdian karena telah menyelenggarakan pembelajaran bahasa Jepang sejak 2014 dan menyediakan kegiatan ekstrakurikuler untuk memperluas kesempatan siswa berlatih. Para siswa juga berupaya mengikuti berbagai lomba kejepangan untuk mengembangkan kemampuan serta minat terhadap bahasa dan budaya Jepang. Kegiatan pengabdian memiliki kedekatan tersendiri karena Ketua Program Studi Sastra Jepang FIB USU sekaligus ketua pelaksana, Alimansyar, merupakan alumni sekolah tersebut.

Pemaparan materi diawali dengan pengenalan Prefektur Fukuoka dan Kota Kitakyushu yang berada di wilayah Kyushu, Jepang. Hikari Inamoto dan Arisa Monji memperkenalkan kehidupan masyarakat, kondisi iklim, kuliner khas, serta destinasi wisata di wilayah tersebut. Siswa diperkenalkan dengan ramen dan mentaiko sebagai bagian dari kekayaan kuliner Fukuoka, serta yaki curry atau kari panggang yang menjadi salah satu kuliner khas Kitakyushu. Materi pengabdian mencakup Kastel Kokura dan Kitakyushu Manga Museum sebagai contoh destinasi yang mempertemukan sejarah dan budaya populer Jepang.

Kedua mahasiswa memperkenalkan Kitakyushu University, termasuk fakultas dan program studi yang tersedia. Mereka juga membagikan gambaran mengenai kehidupan perkuliahan, penyusunan jadwal kuliah, kegiatan organisasi mahasiswa, serta festival kampus Seiransai. Informasi ini memberikan wawasan kepada siswa mengenai kehidupan mahasiswa di Jepang dan berbagai kesempatan untuk mengembangkan minat di luar kegiatan akademik.

Pengenalan kehidupan sekolah menengah atas di Jepang turut menjadi bagian dari kegiatan. Arisa Monji membagikan pengalamannya bersekolah di SMA Hokuchiku, Prefektur Fukuoka, sedangkan Hikari Inamoto menceritakan pengalamannya di SMA Takefu, Prefektur Fukui. Keduanya memperkenalkan kehidupan sekolah yang mencakup mata pelajaran, jadwal belajar, waktu istirahat, serta kegiatan ekstrakurikuler atau bukatsu.

Siswa juga memperoleh informasi mengenai berbagai kegiatan sekolah di Jepang, seperti pekan olahraga atau taiikusai, festival budaya atau bunkasai, dan perjalanan studi atau shugaku ryokou. Pengenalan tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan pendidikan di Jepang tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga mencakup kerja sama, pengembangan minat, dan pengalaman belajar di luar kelas.

Para siswa mengikuti pemaparan dengan antusias dan menunjukkan ketertarikan melalui interaksi langsung dengan kedua mahasiswa Jepang. Mereka mengajukan pertanyaan mengenai materi yang disampaikan dan berupaya menggunakan bahasa Jepang meskipun kemampuan berbahasa mereka masih terbatas. Keberanian tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman belajar karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam komunikasi nyata.

Pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa Jepang juga melengkapi latihan bahasa yang telah dilakukan melalui pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan keikutsertaan dalam berbagai lomba kejepangan. Kesempatan untuk mencoba berkomunikasi secara langsung diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa sekaligus mendorong mereka untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa Jepang.

Kegiatan pengabdian sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Pengenalan bahasa, budaya, dan pendidikan Jepang memperkaya pengalaman belajar siswa serta memperluas pemahaman terhadap kehidupan masyarakat dari latar budaya yang berbeda. Kegiatan pengabdian ini juga sejalan dengan semangat Target 4.7 yang menekankan pendidikan kewargaan global dan penghargaan terhadap keragaman budaya.

Pengenalan kehidupan perguruan tinggi di Jepang turut diharapkan dapat membantu siswa merencanakan pendidikan setelah lulus SMA. Informasi mengenai lingkungan perkuliahan dan pengalaman mahasiswa Jepang dapat menjadi bekal awal untuk menumbuhkan aspirasi melanjutkan studi, disertai kemauan untuk mempersiapkan kemampuan bahasa dan akademik.

Selain mendukung pendidikan berkualitas, kegiatan pengabdian berkontribusi terhadap SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara Prodi Sastra Jepang FIB USU, mahasiswa Kitakyushu University, dan SMA Swasta Kesatria Medan menjadi ruang pertukaran pengetahuan serta pengalaman dari lingkungan pendidikan yang berbeda. Kolaborasi pengabdian sejalan dengan semangat Target 17.16 mengenai kemitraan multipihak dan berbagi pengetahuan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Keterlibatan dua mahasiswa Prodi Sastra Jepang FIB USU yang merupakan alumni SMA Swasta Kesatria Medan turut mempererat hubungan antara sekolah dan perguruan tinggi. Keterhubungan tersebut menunjukkan bahwa alumni dapat berperan dalam mendukung kegiatan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan sekolah asalnya.

Melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, Prodi Sastra Jepang FIB USU berharap kegiatan ini dapat memperkaya pembelajaran bahasa Jepang melalui pengalaman lintas budaya. Kegiatan pengabdian diharapkan menumbuhkan semangat belajar berkelanjutan, memperluas wawasan pendidikan siswa, serta memperkuat kemitraan pendidikan antara Indonesia dan Jepang.