Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (FIB USU) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMK Terpadu Al-Farabi, Jalan Perjuangan No. 177, Tanjung Selamat, Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, pada 26 September 2026. Kegiatan pengabdian menghadirkan dua mahasiswa inbound dari Kitakyushu University, Jepang, yaitu Hitomi Abe dan Yuzuki Himeno, untuk memperkenalkan keragaman daerah, kehidupan masyarakat, dan pendidikan di Jepang kepada siswa.

Kegiatan dipimpin oleh Ketua Program Studi Sastra Jepang FIB USU, Alimansyar, S.S., M.A., Ph.D., dengan dukungan dua mahasiswa Sastra Jepang FIB USU. Kehadiran kedua mahasiswa Jepang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal pengalaman belajar dan kehidupan generasi muda Jepang secara langsung.

Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Dukungan terlihat melalui kehadiran Ketua Yayasan dan Kepala SMK Terpadu Al-Farabi, Muhammad Arroji Lubis, S.Pd.I. Sebagai sekolah yang baru berdiri dan telah membuka pembelajaran bahasa Jepang sejak awal penyelenggaraan pendidikan, SMK Terpadu Al-Farabi menjadi lingkungan yang relevan untuk memperkaya pembelajaran bahasa melalui pengenalan budaya dan pengalaman pendidikan di Jepang.

Dalam presentasinya, Hitomi dan Yuzuki memperkenalkan Prefektur Oita dan Tokushima sebagai contoh keragaman daerah di Jepang. Oita diperkenalkan melalui destinasi pemandian air panas Beppu dan Yufuin, makanan khas seperti toriten dan dango jiru, serta keindahan alam Pegunungan Kuju dan kawasan Yabakei.

Sementara itu, Tokushima diperkenalkan melalui tradisi tari Awa Odori, pusaran air Naruto, dan kuliner Tokushima ramen. Melalui materi tersebut, siswa memperoleh gambaran mengenai beragam karakteristik wilayah Jepang yang tercermin dalam tradisi, makanan, dan kondisi geografisnya.

Pengenalan dilanjutkan dengan pembahasan wilayah Kyushu dan Prefektur Fukuoka yang terletak di bagian barat daya Jepang. Kedua mahasiswa turut memperkenalkan hubungan Fukuoka dengan kawasan Asia serta kuliner khasnya, seperti Hakata ramen, mentaiko, dan motsunabe. Materi pengabdian memperluas wawasan siswa mengenai hubungan antara letak geografis, kehidupan sosial, dan identitas budaya suatu daerah.

Kota Kitakyushu juga menjadi bagian dari pemaparan, khususnya mengenai perkembangan industri baja dan pengalaman kota tersebut dalam menghadapi pencemaran hingga berkembang menuju kota berwawasan lingkungan. Contoh tersebut memberikan gambaran tentang pentingnya memperhatikan kualitas lingkungan dalam pembangunan perkotaan. Secara tematik, materi pengabdian berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.

Selanjutnya, siswa diperkenalkan dengan Kitakyushu University yang berlokasi di Kota Kitakyushu, Prefektur Fukuoka. Presentasi mencakup gambaran bidang studi, pembelajaran bahasa asing, dan kegiatan pertukaran internasional. Informasi tersebut memberikan pengetahuan awal mengenai lingkungan pendidikan tinggi di Jepang serta membuka wawasan siswa mengenai peluang melanjutkan studi setelah menyelesaikan pendidikan menengah.

Pembahasan materi mencakup kehidupan pelajar sekolah menengah atas di Jepang. Hitomi dan Yuzuki membagikan gambaran rutinitas siswa, mulai dari persiapan berangkat sekolah, mengikuti pelajaran, menikmati waktu makan siang, hingga melakukan kegiatan setelah sekolah. Siswa juga diperkenalkan dengan kegiatan membersihkan lingkungan sekolah, mengikuti klub, mengerjakan tugas, serta beristirahat di rumah.

Kedua mahasiswa turut menjelaskan berbagai agenda tahunan sekolah, seperti upacara masuk sekolah, penyambutan siswa baru, pertandingan olahraga, festival budaya, pekan olahraga, perjalanan studi, dan upacara kelulusan. Kegiatan klub atau bukatsu juga menjadi bagian dari pemaparan. Materi pengabdian memperlihatkan bahwa kehidupan pendidikan mencakup pengembangan minat, kerja sama, dan tanggung jawab di samping kegiatan pembelajaran di kelas.

Selain presentasi, kegiatan pengabdian diisi dengan praktik origami atau seni melipat kertas Jepang. Hitomi Abe dan Yuzuki Himeno membimbing siswa melipat kertas menjadi bentuk burung bangau. Para siswa mengikuti tahapan yang diperagakan dan berpartisipasi dalam kegiatan praktik tersebut dengan antusias.

Praktik origami memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal budaya Jepang melalui pengalaman langsung. Kegiatan pengabdian juga melengkapi pembelajaran dengan aktivitas kreatif yang melatih ketelitian dan kemampuan mengikuti urutan langkah. Perpaduan antara presentasi dan praktik membuat pengenalan budaya tidak hanya berlangsung melalui penyampaian informasi, tetapi juga melalui keterlibatan aktif siswa.

Kegiatan pengabdian ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya semangat Target 4.7 yang mendorong pemahaman mengenai kewargaan global dan penghargaan terhadap keragaman budaya. Pengenalan kehidupan masyarakat Jepang dan praktik origami menjadi bagian dari pembelajaran lintas budaya yang diharapkan dapat memperluas wawasan siswa serta menumbuhkan sikap saling menghargai.

Dari sisi SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, kegiatan ini memperlihatkan kolaborasi antara Program Studi Sastra Jepang FIB USU, mahasiswa inbound Kitakyushu University, dan SMK Terpadu Al-Farabi. Dukungan pihak yayasan dan sekolah memperkuat ruang pertukaran pengetahuan serta memperluas pengalaman belajar siswa, terutama dalam pembelajaran bahasa Jepang yang telah diselenggarakan di sekolah tersebut.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Program Studi Sastra Jepang FIB USU berharap siswa semakin termotivasi untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan akademik, mengenal keragaman budaya Jepang, serta mempertimbangkan peluang melanjutkan pendidikan ke Jepang. Kolaborasi pengabdian diharapkan dapat mendukung pembelajaran berkualitas, memperkuat pemahaman lintas budaya, dan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat.