Medan, 3 September 2026 — Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU), turut menyelenggarakan World Music Talkshow bertajuk “Kearifan Lokal sebagai Tools Menjangkau Musik Global”. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Lake Toba Traditional Music Festival 6.0 “Pulse of Sound” dan dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026, pukul 14.00–16.30 WIB di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman dalam pengembangan musik, manajemen talenta, jejaring musik internasional, serta akademik, yaitu Aristofani Fahmi dari Manajemen Talenta Nasional, Agus Setiawan Basuni dari Worldjazz Meeting, Riduan Zalani dari NADI Singapura, serta Ahmad Arief Tarigan, S.Sn., M.Si., dosen Program Studi Etnomusikologi FIB USU. Diskusi dipandu oleh Jones Gultom sebagai moderator. Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU, Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., dan Ketua Program Studi Etnomusikologi FIB USU, Hubari Gulo, S.Sn., M.Sn.
Mengangkat tema kearifan lokal sebagai kekuatan untuk menjangkau musik global, talk show ini membahas pentingnya melihat musik lokal tidak hanya sebagai warisan budaya yang perlu dipertahankan, tetapi juga sebagai sumber kreativitas yang dapat dikembangkan dan diperkenalkan ke ruang yang lebih luas. Membawa musik lokal ke ranah global menjadi penting agar kekayaan musikal dan identitas budaya suatu daerah semakin dikenal, diapresiasi, sekaligus memiliki peluang untuk terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam perkembangan musik yang semakin terbuka, globalisasi dapat menjadi peluang bagi musik tradisional untuk membangun jejaring dan menemukan audiens baru. Namun, proses tersebut tidak harus membuat musik lokal kehilangan identitasnya. Salah satu pembahasan yang mengemuka adalah konsep glokalisasi, yaitu bagaimana unsur dan karakter lokal dapat dipertemukan dengan perkembangan, kebutuhan, serta selera global. Dengan pendekatan tersebut, musik lokal dapat beradaptasi dan berinovasi tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi identitasnya.
Pembahasan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan musik lokal memiliki dimensi yang lebih luas, tidak hanya dalam aspek kebudayaan, tetapi juga pendidikan, ekonomi kreatif, dan kemitraan. Dalam konteks pendidikan, ruang dialog antara akademisi, praktisi, dan mahasiswa menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkaya pengetahuan serta kompetensi generasi muda, sejalan dengan semangat Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang pendidikan berkualitas. Sementara itu, ketika musik lokal dikembangkan secara kreatif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, terdapat peluang bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan pelaku seni yang sejalan dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Upaya membawa musik lokal ke tingkat global juga membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, pelaku seni, industri kreatif, serta jejaring musik nasional dan internasional memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan musik tradisional. Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, sekaligus memperkuat posisi kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Melalui World Music Talkshow ini, Program Studi Etnomusikologi FIB USU menegaskan pentingnya menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan untuk berkomunikasi dengan dunia. Musik lokal tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai pengetahuan dan identitas yang dapat terus berkembang melalui kreativitas, inovasi, dan kolaborasi. Dengan demikian, upaya membawa musik lokal ke ranah global diharapkan tidak hanya memperluas apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk memastikan musik tersebut tetap hidup, relevan, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.