Di tengah derasnya arus digital, sastra batak membuktikan bahwa ia tetap relevan dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Program Studi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, menghadirkan Kuliah Umum bertajuk "Sastra Modern Bahasa Daerah di Tengah Masyarakat Batak Milenial" sebagai ruang inspiratif untuk mengajak mahasiswa dan masyarakat melihat bagaimana bahasa serta sastra Batak terus hidup, berkembang, dan beradaptasi di era modern. Kegiatan ini menjadi wadah untuk berdiskusi, berbagi gagasan, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya lokal.

Acara diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU, Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A., dan Ketua Program Studi Sastra Batak, Drs. Jekmen Sinulingga, M.Hum. Kuliah umum menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Saut Poltak Tambunan, seorang sastrawan (Pande Gurit) yang dikenal aktif melestarikan sastra Batak, serta Tigor Tampubolon, alumni Program Studi Sastra Batak yang berbagi pengalaman tentang relevansi sastra daerah di dunia profesional. Diskusi dipandu oleh Dr. Tomson Sibarani sebagai moderator, sehingga suasana berlangsung interaktif dan penuh semangat.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sastra Batak menegaskan bahwa melestarikan budaya tidak lagi harus dilakukan dengan cara yang konvensional. Generasi muda justru memiliki peluang besar untuk mengenalkan bahasa dan sastra Batak melalui kreativitas, media digital, dan berbagai inovasi yang dekat dengan kehidupan mereka. Kuliah umum ini menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi aset berharga yang dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari gaya hidup generasi masa kini. Karena pada akhirnya, budaya itu bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirayakan dan diwariskan.