home icon
search icon
menu icon

> Berita > Kuliah Umum “Memahami Ekonomi Tersembunyi dan Meletakkan Kebudayaan Sebagai Hulu Pembangunan”

Kuliah Umum “Memahami Ekonomi Tersembunyi dan Meletakkan Kebudayaan Sebagai Hulu Pembangunan”

Dipublikasi Pada

12 Oktober 2024

Dipublikasi Oleh

Anita Kartika Pasaribu

Kuliah Umum “Memahami Ekonomi Tersembunyi dan Meletakkan Kebudayaan Sebagai Hulu Pembangunan”
Thumbnail Kuliah Umum “Memahami Ekonomi Tersembunyi dan Meletakkan Kebudayaan Sebagai Hulu Pembangunan”

 

facebookinstagram

 

HUMAS FIB USU - Pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan Kuliah Umum dengan Tema Memahami Ekonomi Tersembunyi dan Meletakkan Kebudayaan Sebagai Hulu Pembangunan dengan Narasumber Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid, Ph.D. dan Moderator M. Azis Rizky Lubis, S.S., M.A. Kegiatan ini diselenggarakan di Digital Learning Center Building (DLCB) USU dan dihadiri oleh Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si. Dekan FIB Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A, Wakil Dekan 2 Dra. Heristina Dewi, M.Pd. Wakil Dekan 3 Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D, Ketua Panitia Rahmadsyah Rangkuti, S.S., M.A., Ph.D. Dosen dan seluruh panitia juga Mahasiswa/I FIB USU.

 

 


 

 

Dekan FIB Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A, menyampaikan kata sambutan budaya diharapkan jadi bagian integral dalam proses pembangunan. Tentunya ini sejalan dengan materi kuliah umum yang disampaikan Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI, Hilmar Farid, PHD. Kuliah umum ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke- 59 FIB.

 


“Berbagai kegiatan telah kita lakukan dalam rangka Dies Matalis ke-59 FIB USU untuk mewujudkan karakteristik FIB. Kedepan kami harapkan agar para mahasiswa dapat diarahkan untuk penelitian interdisiplin,” ujar Dekan

 

 

 


Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si. menyampaikan kata sambutan berharap agar Kuliah Umum ini dapat memberi manfaat bagi para dosen dan mahasiswa. Dalam upaya pemajuan pelestarian kebudayaan, kolaborasi menjadi kunci.

 


“Seperti yang sedang kita kerjakan saat ini sedang menggarap film animasi Puteri Hijau kolaborasi antara mahasiwa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Komunikasi dan Fasilkom-TI),” ujar Rektor.

 


Dalam waktu 5 tahun ke depan, kita mau jadikan USU sebagai Center Of Local Wisdom and Art dengan FIB sebagai garda terdepannya. Jadi, budaya yang berbeda bukan jadi halangan dan pemicu konflik. akan menjadikan perbedaan dan keragaman budaya sebagai kekuatan.

 

 

 


Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Hilmar Farid, Ph.D mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati dan budaya terbesar di dunia selain Brazil dan Afrika. Begitu juga dengan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) jadi harta yang luar biasa bagi Indonesia. Hanya saja, penetapan yang sudah dilakukan namun pengembangan dan manajemennya kurang.

 


“Kebudayaan memainkan peran yang sangat krusial dalam pembangunan. Kebudayaan adalah ekspresi dari alam sekitar. Keragaman alam membentuk keragaman budaya dan pranata sosial. Konsekuensinya, cara masyarakat mengatur hidupnya (metabolisme sosial) bertumpu pada cara alam meregenerasi dirinya (metabolisme alam). Sektor kebudayaan menjadi sangat penting karena ia merupakan titik temu antara alam dan masyarakat,” dalam paparannya saat Kuliah Umum “Memahami Ekonomi Tersembunyi dan Meletakkan Kebudayaan Sebagai Hulu Pengetahuan” Dirjen Kebudayaan juga menyebutkan, kebijakan kebudayaan yang mendukung diversitas biokultural adalah landasan penting bagi semua ekonomi tersembunyi di balik pembangunan.

 


Ini berarti bahwa kebijakan pemerintah harus tidak hanya memihak pada pelestarian dan pengembangan keragaman budaya, tetapi juga pada perlindungan dan regenerasi ekosistem yang menjadi basis dari keragaman tersebut. “Untuk mencapai pembangunan yang benar-benar berkelanjutan, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dari pemerintah. Tidak cukup hanya memfasilitasi kegiatan budaya, pemerintah juga harus merumuskan kebijakan lingkungan yang secara aktif mendukung regenerasi ekosistem,” sebutnya.

 


Langkah konkret dapat dimulai dengan program restorasi ekosistem yang melibatkan masyarakat lokal dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional mereka. Sejalan dengan itu, perlu dikembangkan kebijakan yang mendorong praktik pertanian dan perikanan berkelanjutan, yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mengakar pada kearifan lokal.

 


Dirjen juga menyampaikan, saatnya tidak lagi mengatasnamakan Pelestarian untuk mendapatkan belas kasihan agar orang suka dengan apa yang kita kerjakan. Kini saatnya, bagaimana orang suka dan ingin terlibat dengan apa yang kita kerjakan. Tantangannya bagaiman cara kita mengelola ekspresi lokal agar disukai global.

 

 

 

 

Berita