home icon
search icon
menu icon

> Berita > Grand Final Lomba Vokal dan Musik Tradisional di FIB USU

Grand Final Lomba Vokal dan Musik Tradisional di FIB USU

Dipublikasi Pada

14 Februari 2025

Dipublikasi Oleh

Anita Kartika Pasaribu

Grand Final Lomba Vokal dan Musik Tradisional di FIB USU
Thumbnail Grand Final Lomba Vokal dan Musik Tradisional di FIB USU

 

 

facebookinstagram

 

HUMAS FIB USU - Pada hari Jumat 14 Februari 2025, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dr. Badikenita Sitepu, S.E., S.H., M.Si., melaksanakan Kegiatan Perlombaan Grand Final Vokal dan Solo di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Gedung Serbaguna FIB USU. yang dihadiri oleh Sekretaris USU Prof. Dr. dr. Muhammad Fidel Ganis Siregar M.Ked(OG), Sp.O.G, Subsp.F.E.R, yang mewakili Rektor USU, Pj. Gubernur Sumatera Utara yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara, serta Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Utara, Konsulat Amerika Serikat di Sumatera Utara Bernard Uadan, Dekan FIB USU Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A, Wakil Dekan II Dra. Heristina Dewi, M.Pd., Hubari Gulo, S.Sn., M.Sn., Sapna Br. Sitopu, S.Pd., M.Sn., Ersada Sembiring, dan Moren Simatupang, S.Pd. Sebagai Dewan Juri dalam kompetisi ini. Dan Mahasiswa FIB USU.

 

 

Sekretaris USU Prof. Dr. dr. Muhammad Fidel Ganis Siregar M.Ked(OG), Sp.O.G, Subsp.F.E.R, dalam sambutannya mengatakan pihak universitas menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. 

 


"Saya mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada Ibu/Bapak para undangan yang telah hadir pada acara ini sebagai bentuk dukungan yang nyata terhadap upaya melestarikan budaya Sumatera Utara," ujar Prof. Fidel.

 


Beliau mengatakan kegiatan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran generasi muda dalam menjaga budaya lokal agar tetap relevan di masa kini. Hal ini juga mencerminkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha untuk menjaga kekayaan budaya Sumatera Utara.

 


"Maka upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisional ini harus terus dilakukan, enggak hanya oleh para seniman, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat," jelas Prof. Fidel.

 

 

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dr. Badikenita Sitepu, S.E., S.H., M.Si., menyampaikan bahwa acara ini telah melalui proses panjang, dimulai dari audisi hingga babak semifinal, sebelum mencapai Grand Final. Dari lebih dari 100 peserta yang mengikuti audisi, kini tersisa 15 peserta yang mewakili berbagai suku di Sumatera Utara, termasuk Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Melayu, Nias, Jawa, India, dan Aceh. kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun kebanggaan generasi muda terhadap budaya lokal yang dimiliki.

 


“Kegiatan ini bentuk kepeduliannya mengangkat dan mempertahankan lagu khas daerah dan musik tradisional ini yang telah mulai hilang. Katakanlah lagu khas dan musik tradisional suku Pakpak yang sepertinya sudah mulai hilang. Padahal, lagu dan bahasa serta musik masing-masingnya suku harus dipertahankan dan dilestarikan,” jelasnya.

 


“Saya juga akan mengenakan pakaian adat multi etnis dari semua peserta. Warna dan perbedaan merupakan khasanah keindahan bangsa Indonesia yang dibingkai dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.

 


“Dalam lomba vokal solo itu turut dilaunching Lembaga Kreatif Seni Budaya Sumatera Utara untuk mempromosikan budaya baik maupun internasional dengan berbagai acara kenegaraan,” ujar Badikenita bahwa kegiatan ini murni bertujuan mengembangkan bakat dan mempertahankan etnis masing-masing.

 


Para finalis sebelumnya telah menerima pembinaan intensif, termasuk pelatihan vokal dan pemahaman nilai-nilai budaya yang terkandung dalam lagu-lagu tradisional. Tujuannya adalah agar mereka tidak hanya tampil, tetapi juga dapat menghayati dan mengapresiasi lagu-lagu yang dibawakan.

 


"Kita tidak hanya menilai dari kualitas suara saja, tapi ini bagaimana dia mengapresiasi lagu itu sendiri, (bagaimana) dia memahami apa kata-katanya, dan kapan itu dinyanyikan," jelas Badikenita

 


Acara puncak menampilkan para finalis yang membawakan lagu-lagu tradisional dari berbagai daerah di Sumatera Utara dengan alat musik khas masing-masing suku. Perlombaan ditampilkan seperti festival untuk melihat harmoni yang indah dari suku asli hingga suku pendatang di Sumut.

 


USU berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari gerakan bersama untuk menjaga budaya lokal. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan seni dan budaya tradisional Sumatera Utara tetap hidup dan menginspirasi generasi mendatang. Acara ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah tantangan modernisasi, warisan budaya masih bisa dirawat dan terus diperjuangkan.

Berita