HUMAS FIB USU - Pada Rabu, 29 Juli 2026 — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) bekerja sama dengan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), International Islamic University Malaysia (IIUM), menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “The Importance of North Sumatra–Aceh in Indonesian Historiography” pada 29–30 Juli 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menjadi forum akademik untuk mengkaji kembali posisi strategis Sumatera Utara dan Aceh dalam pembentukan historiografi Indonesia.
Seminar internasional tersebut diikuti oleh 252 peserta, melampaui target awal sekitar 200 peserta. Peserta berasal dari berbagai kalangan, antara lain dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, peneliti, akademisi, serta masyarakat umum dari berbagai perguruan tinggi dan institusi. Selain sesi utama, kegiatan juga menghadirkan 16 makalah yang membahas beragam perspektif mengenai sejarah, budaya, politik, sastra, masyarakat, dan perkembangan sosial Sumatera Utara dan Aceh.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menghadirkan perspektif historiografi Indonesia yang lebih inklusif dan tidak hanya berorientasi pada narasi sejarah yang berpusat di Jawa. Kajian mengenai Sumatera Utara dan Aceh memiliki posisi penting dalam memahami sejarah Indonesia karena kedua wilayah tersebut memiliki pengalaman historis yang berkaitan erat dengan jaringan perdagangan, perkembangan Islam, hubungan internasional, dinamika politik, keberagaman masyarakat, serta perubahan sosial.
Dalam konteks tersebut, pemikiran sejarawan Anthony Reid menjadi salah satu landasan penting dalam diskusi seminar. Kajian Reid mengenai Aceh dan Sumatera Utara menunjukkan bahwa kedua wilayah tersebut bukan sekadar wilayah pinggiran dalam sejarah Indonesia, tetapi merupakan kawasan strategis yang memiliki keterhubungan dengan berbagai kekuatan dan jaringan global. Aceh, misalnya, memiliki sejarah hubungan dengan dunia Islam dan kekuatan internasional, sementara Sumatera Timur berkembang sebagai ruang perjumpaan berbagai kelompok etnis dan kepentingan ekonomi yang turut membentuk dinamika sosial Indonesia modern.
Pada hari pertama, 29 Juli 2026, seminar menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti sebagai pembicara, yaitu Prof. Lee Kam Hing, Dr. Myra Mentari Abubakar, Dr. Mehmet Ozay, Dr. Nia Deliana, Dr. Kirsten Kampuis, dan Prof. Budi Agustono. Para pembicara membahas berbagai perspektif mengenai sejarah dan historiografi Sumatera Utara serta Aceh, termasuk keterhubungan kawasan tersebut dengan dinamika regional dan global.
Sementara itu, hari kedua, 30 Juli 2026, diisi dengan sesi paralel yang memberikan ruang bagi para pemakalah untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka. Sebanyak 16 makalah dipresentasikan dalam beberapa ruang diskusi. Topik yang diangkat sangat beragam, mulai dari sejarah sastra dan nasionalisme budaya Sumatera Utara, hubungan Aceh–Ottoman, perdagangan rempah, manuskrip Aceh, transformasi Islam, sejarah Kesultanan Bilah, masyarakat Batak, koridor ekonomi Sumatera Utara–Aceh, jurnalisme perempuan, masyarakat Tionghoa di Medan, tradisi lokal, hingga musik dan memori budaya.
Keberagaman tema tersebut memperlihatkan bahwa historiografi Sumatera Utara dan Aceh tidak hanya dapat dipahami melalui perspektif politik dan peperangan, tetapi juga melalui kajian sosial, budaya, ekonomi, bahasa, sastra, agama, kesenian, dan pengalaman masyarakat. Pendekatan multidisipliner tersebut menjadi bagian penting dalam memperkaya pemahaman mengenai perjalanan sejarah Indonesia.
Seminar ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik internasional dan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi. Kolaborasi antara FIB USU dan ISTAC IIUM diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan seminar, tetapi dapat dikembangkan melalui penyelenggaraan seminar, konferensi, kuliah tamu, serta program pertukaran dosen, peneliti, dan mahasiswa.
Dekan FIB USU, Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., bersama Wakil Rektor USU Bidang Penelitian, Inovasi, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., turut memberikan sambutan pada kegiatan tersebut. Kehadiran pimpinan universitas dan fakultas menegaskan dukungan terhadap penguatan kolaborasi akademik dan pengembangan kajian humaniora di tingkat internasional.
Secara umum, seminar internasional berlangsung dengan baik dan melampaui target partisipasi yang telah ditetapkan. Tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya minat akademik terhadap kajian sejarah Sumatera Utara dan Aceh serta relevansinya dalam historiografi Indonesia.
Kegiatan ini juga menghasilkan komitmen untuk memperkuat kerja sama antara FIB USU dan ISTAC IIUM. Salah satu tindak lanjut yang diharapkan adalah pengembangan publikasi ilmiah, termasuk publikasi yang ditargetkan terindeks Scopus, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan akademik secara berkala.
Melalui seminar ini, FIB USU menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kajian humaniora yang terbuka terhadap perspektif global sekaligus memberikan perhatian terhadap sejarah dan identitas lokal. Penguatan kajian mengenai Sumatera Utara dan Aceh diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian warisan sejarah dan budaya, serta pembentukan historiografi Indonesia yang semakin inklusif dan beragam.