HUMAS FIB USU - Pada hari Selasa, 10 September 2024 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan Kuliah umum “General Lecture Rabindranath Tagore: Values, History, Culture and Literature”oleh Narasumber Ravi Shanker Goel, Konsul General India yang bertugas di Medan yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna FIB USU. Yang dihadiri oleh Dekan FIB Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A, Wakil Dekan 1 Prof. Drs. Mauly Purba M.A., Ph.D. Wakil Dekan 2 Dra. Heristina Dewi, M.Pd, Wakil Dekan 3 Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D, Rahmadsyah Rangkuti SS., M.A., Ph.D. Raka Gunaika, S.S., M.A. Latifah Yusri Nasution, S.S., M.Si. Kaprodi, Sekprodi, Dosen, Tendik, Kasubbag dan Mahasiswa FIB USU.
.jpg)
Dekan FIB USU Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein M.A. menyampaikan kata sambutan rasa Terima Kasih Kepada Bapak Ravi Shanker Goel, Konsulat Jenderal India atas pelajaran yang luar biasa. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan dan bantuan Bapak untuk menjadi pembicara dalam Kuliah Umum dengan topik "Rabindranat Tagore: Values, History, Culture, and Literature" yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya dalam rangka HUT ke-59 Fakultas Ilmu Budaya USU. dan terimaksih kepada Para Wakil Dekan yang terhormat Prof. Mauly Purba, M.A., Ph.D Wakil Dekan I yang membidangi Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Wakil Dekan II, Ibu Heristina Dewi, M.Pd yang membidangi Sumber Daya Manusia, Keuangan, dan Aset, Wakil Dekan III, Bapak Muhammad Pujiono, M.Hum, Ph.D yang membidangi Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama, serta Informasi dan Kepada seluruh Ketua dan Sekretaris Departemen, Kepada para Mahasiswa yang mengikuti Kuliah Umum.
Tema acara ini adalah "Rabindranat Tagore: Values, History, Culture, and Literature" yang diharapkan dapat mendukung Diplomasi Budaya India dan kami yakin bahwa pengalaman dan wawasan Anda yang luas sebagai Konsul Jenderal India di Medan akan sangat memperkaya diskusi dan memberikan perspektif yang berharga bagi para peserta.
Yang terhormat Bapak Ravi Shanker Goel dan Hadirin sekalian, Sesuai dengan Visi dan Misi USU menjadi Perguruan Tinggi berkelas dunia, Kuliah Umum ini merupakan salah satu dari sekian banyak upaya untuk mewujudkan Visi dan Misi tersebut. Kuliah Umum ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya ke-59. Kuliah Umum ini merupakan bagian dari kepedulian kita terhadap kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa Indonesia. Bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kebudayaan.
Sastra merupakan cerminan kebudayaan suatu masyarakat, dan bahasa merupakan media yang digunakan untuk mengekspresikannya. Ekspresi kebudayaan memerlukan penggunaan bahasa yang dapat menumbuhkan rasa identitas kelompok dan menumbuhkan solidaritas dengan cara membantu komunikasi. Sastra dan bahasa berperan penting dalam mengekspresikan kebudayaan dan membantu mewariskannya kepada generasi mendatang.
Kita semua tahu bahwa Rabindranath Tagore (1861-1941), "Manusia yang Berpikiran Luas" dan penyair Asia pertama yang memenangkan Hadiah Nobel dalam bidang sastra, adalah seorang penyair, novelis, penulis esai, penulis naskah drama, komposer, pelukis, filsuf, dan pendidik perintis dari India kolonial. Visi dan filosofi Tagore, yang diabaikan atau diselimuti oleh citranya tentang penyair mistis dari timur, kini sedang ditangani untuk mengembalikan keunggulannya sebagai pemikir yang memiliki jangkauan dan makna universal, seseorang yang menentang biner nasional-imperialis dan elit-subaltern (Collins, 2012, hlm. 3). Warisannya hasil karya sastra yang luas dan lembaga pendidikan yang didirikannya bertahan dalam konseptualisasi baru tentang kemanusiaan yang melampaui batas-batas rumah dan dunia. Sebagai tokoh ikonik modernitas India, kehidupannya yang terdokumentasi dengan baik menyampaikan persimpangan pengalaman pribadi dengan upaya publiknya untuk kebaikan bersama.
Pada tahun 1920an Tagore mengunjungi Indonesia terutama Bali dan Jawa. Dua penulis Indonesia telah menerjemahkan Tagore ke dalam bahasa Belanda dan Indonesia. Di antaranya, Noto Soeroto menulis sketsa biografi Rabindranath Tagore dan buku tentang cita-cita pendidikan Tagore.
Selain penulis terkemuka, berbagai organisasi mahasiswa di Belanda, seperti Indische Vereeniging (Serikat Mahasiswa Indonesia) dan Asosiasi Mahasiswa Tionghoa Chung Hwa Hui, sangat ingin bertemu Tagore, dengan keinginan untuk menegaskan identitas Asia Timur mereka melalui dia. Ia dianggap sebagai tokoh budaya yang sangat cocok untuk menjadi juru bicara Timur. Pada masa itu dikotomi Timur-Barat belum ketinggalan zaman, tetapi merupakan fakta yang diterima secara universal.
Van Eysselstein (1961:309-12) menyebutkan bahwa Noto Soeroto menamai putra sulungnya dengan nama guru sastra dan spiritualnya: Rawindra Noto Soeroto. Mengenai organisasi mahasiswa Indonesia dan Tionghoa di Belanda yang ingin bertemu Tagore, lihat berkas Java, Arsip Rabindrabhavana, Santiniketan, Arsip Tagore.
Melalui Kuliah Umum ini diharapkan Karya-karya Sastra Tagore menjadi inspirasi bagi mahasiswa FIB tidak hanya mengembangkan imajinasi yang bisa digunakan untuk memperdalam pemikiran mereka dengan membawa lebih banyak kesadaran akan nilai-nilai dan pandangan dunia dan juga nilai-nilai dan pandangan dunia orang lain di seluruh dunia dan sepanjang sejarah. Selain itu karya sastra juga mempunyai peranan sangat penting dalam membangun peradaban bangsa. Melalui karya sastra, seseorang tidak hanya mengembangkan imajinasi yang bisa digunakan untuk membangun bangsa, tetapi juga sebagai media untuk mewariskan nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
.jpg)