home icon
search icon
menu icon
Bincang Daring Iqlab Indonesia “Mengenal Sejarah Ilmu ‘Arud Melalui Syair-Syair Arab Pilihan untuk Mahasiswa Masa Kini”
Waktu
dummy berita
Registrasi
Deskripsi

Acara Bincang Daring IQLAB (Ittihad Aqsam Al-Lughah Al-Arabiyah wa Adabiha) Indonesia kembali diselenggarakan sebagai forum akademis bagi para dosen, peneliti, dan mahasiswa bahasa serta sastra Arab se-Indonesia. Pada Jumat, 25 September 2026, acara Bincang Daring IQLAB yang bekerja sama dengan berbagai Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di Indonesia sukses diselenggarakan secara virtual melalui Google Meet (PIN: 495 584 890#) pada pukul 15.00 – 17.00 WIB dengan mengusung tema, “Mengenal Sejarah Ilmu ‘Arūḍ melalui Syair-Syair Arab Pilihan untuk Mahasiswa Masa Kini”. Pertemuan akademis ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman sejarah keilmuan serta membangun kepekaan estetis dalam membaca khazanah sastra Arab klasik maupun modern. Inisiatif ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen akademis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) dalam mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan wadah pembelajaran humaniora yang inklusif dan transformatif, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) lewat penguatan jejaring akademis lintas perguruan tinggi.

Acara dipandu dan dimoderatori oleh Dr. Windi Chaldun, Lc., M.Hum., yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Sastra Arab Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Sesi pembukaan diawali dengan sambutan kunci dari Ketua IQLAB Indonesia, Dr. Uki Sukiman, M.Ag. Dalam sambutannya, Dr. Uki Sukiman menegaskan pentingnya konsistensi penyelenggaraan forum ilmiah seperti Bincang Daring ini sebagai sarana penguatan fondasi keilmuan bahasa dan sastra Arab di Indonesia, serta mempererat sinergi antarinstitusi akademis khususnya Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di Indonesia. Kolaborasi strategis antara Prodi Sastra Arab FIB USU, IQLAB Indonesia, dan institusi pendidikan tinggi mitra ini merefleksikan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun ekosistem pendidikan yang solider, terbuka, dan berkelanjutan.

Sesi inti menghadirkan narasumber tunggal, H. Abdul Wahab Naf'an, Lc., M.A., Ph.D., Sekretaris Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam pemaparannya, beliau mengajak peserta melakukan reorientasi paradigma terhadap ilmu ‘Arūḍ. Bagi sebagian besar mahasiswa, ‘Arūḍ sering kali dipersepsikan secara terbatas sebagai daftar rumit Taf‘Īlah, Zi‘Āf, ‘Illah, dan nama-nama Baḥr yang harus dihafalkan demi keperluan ujian. Narasumber meluruskan pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa ‘Arūḍ bukanlah sekadar beban memorisasi, melainkan sebuah metode ilmiah untuk mengamati dan menganalisis keteraturan ritme bunyi yang telah hidup dan dipraktikkan dalam syair Arab jauh sebelum al-Khalil ibn Ahmad merumuskannya secara teoritis. Reorientasi pengajaran dari sekadar hafalan mekanis menuju pemahaman konseptual yang kritis ini sejalan dengan pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) yang terus didorong oleh FIB USU guna melahirkan metode pembelajaran bahasa dan sastra yang lebih adaptif, bermakna, dan relevan bagi mahasiswa masa kini.

Sejarah Kodifikasi dan Pemikiran al-Khalil ibn Ahmad

Dalam tinjauan sejarahnya, tradisi lisan masyarakat Arab pra-Islam telah melahirkan syair-syair ber-wazn (bermetrum) secara alamiah melalui proses mendengarkan, menghafal, meriwayatkan, dan berlatih, meskipun saat itu belum terdapat terminologi ‘Arūḍ. Narasumber membedakan tiga tingkatan konseptual, yaitu al-shi‘r sebagai praktik kesusastraan, al-wazn sebagai keteraturan metrik, dan al-’Arūḍ sebagai sistem analisis dan klasifikasi. Hal ini dianalogikan dengan ilmu Nahwu, di mana masyarakat Arab telah berbicara secara gramatikal sebelum Sībawayh menyusun al-Kitāb. Ungkapan al-waznu qabla al-Khalīl, wa al-’Arūḍu ‘inda al-Khalīl mempertegas bahwa al-Khalil ibn Ahmad al-Farāhīdī (w. 175 H/791 M) tidak menciptakan wazn, melainkan mengamati, mengabstraksi, serta menamai keteraturan bunyi yang sudah ada.

Keunggulan intelektual al-Khalil di Basrah terletak pada kemampuannya melihat sistem di balik apa yang didengar (Ra'ā fī Al-Masmū‘i Niẓāman). Meskipun tradisi naratif kerap mengaitkan penemuan ilmu ini dengan doa di Makkah atau ritme pukulan pengrajin besi, narasumber menekankan pentingnya membedakan antara inspirasi intuitif dan kerja ilmiah. Prestasi ilmiah al-Khalil sejatinya dibangun di atas metode istikrā’ (induksi data syair), abstraksi, pembentukan unit ritmis, dan puncaknya pada formulasi Dawā’ir al-’Arūḍ (Lingkaran Metrik). Lima lingkaran (al-Mukhtalif, al-Mu‘talif, al-Mujtalab, al-Mushtabih, dan al-Muttafiq) memperlihatkan hubungan rotasional antar-baḥr, mengefektifkan pemahaman metrum dari sekadar daftar acak menjadi satu sistem struktur yang padu.

Perkembangan Keilmuan dan Perbandingan Prosodi Modern

Perkembangan ilmu ‘Arūḍ tidak berhenti pada era al-Khalil. Generasi berikutnya, seperti al-Akhfash yang mengemukakan baḥr al-Mutadārik, terus memperkaya dan menyempurnakan sistem ini. Perangkat analisis seperti zi‘āf dan ‘illah dirumuskan untuk menjawab fenomena pergeseran bentuk ideal baḥr dalam realitas pengubahan syair. Namun, ketika masuk ke ranah pengajaran di kelas, tantangan utama yang kerap muncul adalah kecenderungan mahasiswa menerima rumus mekanis tanpa memahami pertanyaan intelektual mendasar yang melahirkan rumus-rumus tersebut.

Dalam konteks pembandingan dengan kajian prosodi modern, narasumber mengingatkan agar para akademisi dan mahasiswa berhati-hati dalam melakukan penerjemahan terminologi. Istilah Khalilian seperti Sabab, Watad, Taf‘Īlah, dan Baḥr bekerja dalam kerangka sistemnya sendiri dan tidak dapat disamakan secara langsung dengan istilah prosodi Barat seperti Syllable, Foot, atau Meter. Mengutip kajian modern dari para sarjana seperti Wolfhart Heinrichs dan Oriana Capezio, narasumber menegaskan bahwa tradisi metrik Arab merupakan sebuah bangunan teori yang sangat kompleks. Oleh karena itu, penerjemahan istilah tidak boleh dilakukan sebelum memahami sistem konseptual yang menopangnya.

 

Apresiasi Syair Pilihan dan Nilai Edukatif bagi Mahasiswa

Guna membumikan teori metrik, narasumber menyajikan analisis terhadap sejumlah syair Arab pilihan yang sarat pesan edukatif dan moral bagi mahasiswa masa kini. Diawali dengan bait Mu‘allaqah karya Imru’ al-Qays (Qifā nabki...) ber-baḥr al-Ṭawīl, narasumber menyampaikan pesan puitis tentang pentingnya keberanian untuk "berhenti sejenak" (qifā) membaca dan mengevaluasi perjalanan diri di tengah kesibukan serta dinamika kehidupan kampus. Selanjutnya, melalui syair al-Mutanabbī (‘Alā qadri ahli al-‘azmi ta’tī al-‘azā’imu), mahasiswa dimotivasi untuk memiliki tekad besar dan tidak mengecilkan cita-cita hanya karena tantangan pembelajaran bahasa dan sastra Arab yang dihadapi terasa berat.

Sesi pembahasan syair menjadi kian kontekstual ketika narasumber mengulas karya ulama dan sastrawan Nusantara, KH. Abdullah bin Nuh, dalam kumpulan Haqā’iq wa Ahlām wa Naẓarāt. Puisi Hādhā al-Kawn, Hiya al-Dunyā, dan Hādhihi al-Ḥayāh menunjukkan bahwa tradisi ‘Arūḍ hidup subur di Indonesia dan bahasa Arab dapat dijadikan media berpikir, berkarya, serta menyampaikan pesan etis-spiritual. Pembahasan ditutup dengan meninjau baris puisi modern karya Mahmūd Darwīsh (‘Alā hādhihi al-arḍi mā yastaḥiqqu al-ḥayāh), yang memperlihatkan transisi menuju shi‘r al-taf‘īlah. Transisi ini membuktikan bahwa meskipun bentuk arsitektur bait mengalami perubahan, keteraturan ritme estetiknya tetap terjaga.

Demonstrasi Taqṭī‘ dan Relevansi ‘Arūḍ di Era Digital dan AI

Pada bagian akhir materi, narasumber memperagakan satu demonstrasi taqṭī‘ secara bertahap, mulai dari analisis bunyi, penulisan ‘Arūḍiyyah, penentuan unit ritmis, taf‘īlah, hingga pengenalan baḥr. Demonstrasi ini bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana wazn memberikan kontribusi nyata terhadap keindahan bait, alih-alih menjadikannya sekadar tes kecepatan hafalan. Terkait dengan perkembangan teknologi komputasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kini mampu mengidentifikasi pola metrik secara otomatis, narasumber menekankan bahwa teknologi tidak akan menggantikan peran manusia dalam menikmati rasa sastra (tadhawwuq). Kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan mekanis, tetapi apresiasi terhadap konteks sejarah, emosi, semantik, dan keindahan puitis tetap memerlukan kepekaan nurani serta rasa intelektual mahasiswa. Integrasi keahlian berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) dengan pemanfaatan teknologi digital ini semakin memperkuat pilar SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam mempersiapkan lulusan humaniora yang literat secara digital tanpa kehilangan kepekaan rasa budaya.

Acara Bincang Daring diakhiri dengan diskusi interaktif dan tanya jawab antara narasumber dan para peserta yang antusias. Secara keseluruhan, Bincang Daring IQLAB kali ini sukses menyajikan pembahasan yang komprehensif dan inspiratif, menghubungkan aspek sejarah, teori struktural, apresiasi sastra, hingga tantangan teknologi digital. Kegiatan ini berhasil menegaskan kembali bahwa mempelajari ilmu ‘Arūḍ bukanlah tujuan akhir untuk menghafal kaidah semata, melainkan sebuah kunci akademis untuk membuka keindahan syair Arab, mempertajam kepekaan pendengaran sastra, serta memahami relevansi nilai-nilai puitis dalam kehidupan masa kini. Pelaksanaan acara ini menegaskan peran nyata Prodi Sastra Arab FIB USU bersama IQLAB Indonesia dalam memajukan kualitas pendidikan tinggi sastra Arab (SDG 4: Pendidikan Berkualitas) melalui skema kemitraan strategis nasional yang solid dan berkelanjutan (SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Agenda

Temukan Agenda Lainnya