home icon
search icon
menu icon

> Berita > Guest Lecture "(Expert of ASEAN Centre in MGIMO University, Moscow) S2 Ilmu Sejarah FIB USU

Guest Lecture "(Expert of ASEAN Centre in MGIMO University, Moscow) S2 Ilmu Sejarah FIB USU

Dipublikasi Pada

16 Oktober 2025

Dipublikasi Oleh

Anita Kartika Pasaribu

Guest Lecture "(Expert of ASEAN Centre in MGIMO University, Moscow) S2 Ilmu Sejarah FIB USU
Thumbnail Guest Lecture "(Expert of ASEAN Centre in MGIMO University, Moscow) S2 Ilmu Sejarah FIB USU

 

 

 

facebookinstagram

 

 

HUMAS FIB USU - Pada Kamis 16 Oktober 2025 Program Studi S2 Ilmu Sejarah FIB USU melaksanakan Kuliah Umum bersama Assoc. Prof. Nikita Kuklin (Expert of ASEAN Centre in MGIMO University, Moscow) dengan tema: Indonesian Modern Political History”. Kegiatan ini merukan jenis kegiatan kuliah tamu yang diselengarakan dalam bentuk online melalui platform ZOOM Meeting. diselenggarakan dalam 3 hari Kamis, Jumat, Sabtu/ 16, 17,18 Oktober 2025.

 

Kegiatan kuliah tamu dengan pembicara Prof. Nikita Kuklin (Expert of ASEAN Centre in MGIMO University, Moscow). Moderator Jaenal Abidin, MA, Ph.D. Kuliah umum ini berfokus pada pembahasan dinamika sejarah politik Indonesia modern melalui tiga tema utama yang saling berkaitan.

 

Tujuan dari kuliah umum ini adalah untuk mengajak mahasiswa memahami perjalanan sejarah politik Indonesia modern melalui tiga pokok bahasan utama. Melalui materi tentang aktivis Indonesia dan gerakan anti-imperialisme, mahasiswa diajak melihat bagaimana semangat kebangsaan tumbuh di tengah perjuangan melawan penjajahan. Pembahasan mengenai evolusi pemikiran politik membantu mahasiswa mengenali perubahan cara berpikir para tokoh bangsa dari masa kolonial hingga setelah kemerdekaan. Sementara itu, tema tentang Gerakan Non-Blok menunjukkan bagaimana Indonesia berperan aktif di dunia internasional dengan prinsip politik luar negeri yang bebas dan mandiri. Secara keseluruhan,kuliah ini bertujuan menumbuhkan pemahaman dan kesadaran kritis terhadap perjalanan politik Indonesia serta relevansinya bagi kehidupan berbangsa saat ini.

 

Pertama, “Indonesian Activists and the League against Imperialism”, membahas keterlibatan aktivis Indonesia dalam gerakan internasional anti-imperialis pada awal abad ke-20 serta bagaimana jaringan global tersebut memperkuat semangat kebangsaan. Prof. Nikita Kuklin membahas munculnya aktivis Indonesia dalam jaringan internasional League against Imperialism pada awal abad ke-20 sebagai bagian dari kebangkitan kesadaran politik bangsa terjajah. Pembicara menyoroti bahwa keterlibatan tokoh-tokoh Indonesia di organisasi ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari gerakan global melawan kolonialisme. Paparan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab yang dibagi menjadi dua sesi, dimana tiap sesi terdiri dari 3 orang penanya yang nantinya akan dijawab oleh pembicara.

 

Kedua, “Indonesian Political Thinking: Evolution of Political Consciousness”, mengulas perkembangan pemikiran politik Indonesia dari masa kolonial hingga pascakemerdekaan, termasuk proses terbentuknya kesadaran nasional, gagasan kedaulatan rakyat, dan ide-ide pembebasan sosial. Prof. Nikita Kuklin untuk langsung memaparkan materinya yang sudah disajikan dalam bentuk slide power point selama lebih kurang 45 menit. Materi pada sesi ini membahas perkembangan kesadaran politik di Indonesia dari masa awal kebangkitan nasional hingga periode modern. Fase awal ditandai oleh gerakan nasionalis awal (1900-an–1930-an) yang menjadi masa kebangkitan kultural dan politik. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, dan Ki Hadjar Dewantara memainkan peran penting dalam memperkenalkan ide kebangsaan, kemerdekaan, dan solidaritas. Di sisi lain, gerakan sosialisme dan komunisme (1920–1950-an) memperkaya wacana politik Indonesia dengan gagasan tentang keadilan sosial dan perjuangan kelas, sementara gerakan politik Islam menekankan nilai moral serta menjadi penhubung antara prinsip-prinsip Islam dengan organisasi politik Modern.


Ketiga, “The Non-Aligned Movement and Indonesia's Role”, menyoroti konsep berdirinya Gerakan non-Blok dan peran Indonesia dalam Gerakan Non-Blok yang menegaskan politik luar negeri bebas-aktif serta kontribusi Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dan kemandirian bangsa-bangsa berkembang. paparan ini menggambarkan bahwa Gerakan Non-Blok bukan sekadar posisi politik netral, melainkan wujud dari identitas dan strategi diplomasi Indonesia yang berlandaskan kemandirian, solidaritas, dan keadilan global. Setelah penyampaian materi, kegiatan berlanjut ke sesi tanya jawab yang melibatkan

 

 

Berita