Artikel ini menguji arah masa depan kajian filologi Melayu dengan mengatasi kesenjangan antara digitalisasi naskah dan produksi pengetahuan yang bermakna secara kebahasaan. Artikel ini bertujuan untuk mengusulkan model filologi Melayu digital kritis yang melangkah lebih jauh dari sekadar pelestarian menuju penafsiran berbasis korpus, peka Jawi, dan berlandaskan etika. Menggunakan desain metode campuran berlapis, studi ini menyintesis penafsiran filologis, pemetaan korpus kuantitatif, serta triangulasi data digitalisasi naskah terbaru, penelitian literasi Jawi, dan keilmuan linguistik Melayu. Temuan menunjukkan bahwa dokumentasi DREAMSEA pada tahun 2024 terhadap lebih dari 571.584 gambar naskah dari 8.570 lebih naskah di 168 pemilik dan 57 wilayah menyediakan fondasi empiris yang substansial bagi filologi berorientasi korpus. Masuknya delapan belas naskah pada tahun 2025, termasuk sebelas naskah Melayu, ke dalam Digital Library Royal Asiatic Society semakin menegaskan sirkulasi transnasional dari warisan tekstual Melayu. Namun, gambar yang didigitalisasi hanya menghasilkan pengetahuan filologis ketika ditransformasikan melalui transliterasi, anotasi ortografis, klasifikasi genre, penandaan semantis, dan penafsiran wacana. Studi ini juga menemukan bahwa variasi ejaan Jawi memengaruhi keterbacaan, ketersebagian/keterlacakan pencarian, dan penafsiran sejarah. Model yang diusulkan berkontribusi dengan mengintegrasikan filologi klasik, linguistik korpus, semantik sejarah, sosiolinguistik, humaniora digital, dan kolaborasi komunitas untuk membingkai ulang naskah Melayu sebagai arsip hidup dari bahasa, hukum, agama, diplomasi, dan peradaban.